Dimas Alfarizi

I am an Indonesian Traveler

Dimas Alfarizi

Indonesian Traveler

  • Bandung, Jawa Barat, Indonesia
  • +62 (ask)
  • muhdimasgfa@yahoo.com
  • dimasalfarizi.blogspot.co.id
Me

My Travel Map

Sidoarjo, Bojonegoro, Bandung, Banyuwangi, Denpasar, Malang, Surabaya, Pekalongan, Purwokerto, Semarang, Yogyakarta, Solo, Kupang, Alor, Batam, Natuna, Kendari, Konawe Selatan, Bau-Bau, Makassar, Ambon, Tual, Langgur, Ternate, Labuha, Balikpapan, Berau, Derawan, Sintang, Putussibau, Kapuas Hulu, Ketungau Hulu

Sumatra 20%
Jawa 80%
Bali 65%
Kalimantan 20%
Sulawesi 40%
NTT NTB 10%
Maluku Malut 20%
Papua 5%

Most Important

You're the most important for me, even my job can't beat you for my life

Sujud Terakhir

Bagiku, di setiap sujud terakhir dalam sholatku, namamu selalu kulafadzkan dalam hati dengan penuh pengharapan dan rendah hati agar engkau yang terbaik bagiku untuk hidupku

Our Pray

Robbana Hablanaa Min Azwaajinaa Wadzurriyatinaa Qurrota A'Yun Waj'Alnaa Lil Muttaqiina Imaamaa

Just Want To Say

I Love You Devianti Nurhawati -MDGFA-

Our Love

S N Z

Just Want To Say

Every love story is beautiful, but Ours is My Favorite -DN-

Indonesian Traveler
Indonesian Traveler
0
Engineer
0
Officer
0
Father
Tampilkan postingan dengan label suporter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label suporter. Tampilkan semua postingan
  • Bal-Balane Awak Dewe Ruwet C*k!!!

    ( copy from @Gilang_Mahesa )
    MARI SELAMATKAN SEPAKBOLA INDONESIA DAN BERINGASNYA MEDIA MEMUTAR FAKTA MELALUI EYD !!!!

    1. Publik sepakbola Indonesia , seminggu terakhir ini disuguhi 'Drama' @KEMENPORA_RI , BOPI, PSSI yg berujung pd penundaan kick off ISL 2015
    2. Penundaan yg kemudian di buzz sedemikian rupa oleh bbrp pihak sbg sesuatau hal yg sangat luarbiasa, sehingga perlu disikapi luar biasa jg
    3. Ya....penundaaan soal jadwal kompetisi seingat saya adalah hal yg biasa saja dlm spkkbola kita, bahkan ada laga ditunda sampai 1 tahun :)
    4. Jusru hiruk pikuk yg menyertai soal ini malah menutupi subtansi dari proses yg sedang dilakukan , mulai dibangun isu2 yg tidak subtantif
    5. Kompetisi Sepakbola dinegara manapun tetaplah tidak bisa berdiri sendiri dan terpisah dari peran serta negara , banyak faktor
    6. Ada 2 domain juridiksi yg hrs di pahami oleh semua stakeholder spkbola kita : Mana Domain Juridiksi Federasi mana Domain Juridiksi Negara
    7. Jika negara memeriksa keabsahan sebuah Badan Hukum pengelola olahraga baik penyelenggaran atau peserta , maka itulah domain negara
    8. Dlm konteks sepakbola pro Indonesia, ketika negara memeriksa keabsahan badan hukum penyelenggara dan peserta kompetisi, itu domain negara
    9. Jadi yg diperiksa keabsahan oleh negara bukab Persib sebagai klub, tapi PT. Persib Bandung Bermantabat sebagai badan hukum ........
    10. ..... sbg badan hukum yg salah satu jenis usahanya adalah di bidang keolahragaan, hal yg sama berlaku untuk PT yang lain termasuj PT. LI
    11. Jadi karena domain negara maka hal yg wajar dan patut negara memeriksa keabsahan legalitas sesuai dengan UU dan peraturan yang berlaku
    12. Yg hrs dipahami oleh semua, hal ini dilakukan sebagai bagian dari melindungi terjadinya pelanggaran2 yg mungkin dilakukan oleh .........
    13. .....pelanggaran Badan2 hukum yg bergerak di bidang olahraga seperti soal pengupahan tenaga kerja, pajak, perjanjian bisnis dll
    14. Nah, jk semua stakeholder berfikir bhw ini adalah langkah preventif negara utk melindungi hrsnya soal penundaaan ini adalah hal positif
    15, Saya punya keyakinan bahwa @KEMENPORA_RI memiliki niatan baik utk berperan serta dalam domain juridiksinya membantu pembenahan spkbola
    16. Justru niatan baik ini harusnha disambut oleh stakehholder inti spkbola Indonesia : Klub, Pemain, Official dan Suporter sebagai momentum
    17. Saya hanya mau mengingatkan sj bahwa perintah penataan kondisi sepakbola Indonsia sdh diperintahkan oleh AFC sjk 2008 , 7 tahun berlalu
    18. Artinya sdh cukup waktu bg PSSI, PT LigaIndonesia & PT-PT yg membawahi klub sepakbola utk bebenah, apalagi hal2 principil soal legalitas
    19. Jadi ketika negara melalui @KEMENPORA_RI dan BOPI memeriksa hal2 dasar terkait legalitas harusnya itu hal biada da mudah saja :)
    20. Hal2 prinsip dasar dlm sebuah legalitas perusahaan jk benar bukan hal sulit utk dipenuhi, jadi aneh jika berhari hari tdk bisa dipenuhi
    21. Bukankah PT LigaIndonesia sebagai penyelenggaran kompetisi harus menjadi pihak pertama yg memeriksa keabsahan legalitas ini ?
    22. Artinya, sebenarnya jika PT LI bener maka seluruh data legalitas PT-PT yg menaungi klub pasti ada copy dokumennya di PT Liga :)
    23. apa saja hal2 dasar sebuah peruhaaan : akta pendirian, akta2 perubahan, pengesahan kumham terhadap akta2, NPWP, SIUP, TDP, .......
    24. ...... laporan laporan termasuk di dalamnya laporan keuangan dan laporan pajak, itu hal2 dasar yg harusnya mudah dipenuhi :)
    25. Jadi hal2 dasar inilah yg saat ini sdg dicek keabsahannya oleh pemerintah terhadap PT Liga & PT2 pengeloka klub sepakbola pro Indonesia
    26. bagaimana bisa pemerintah yg hrsnya menjaga & menjalankan UU, tapi memberikan rekomendasi hukum kpd pihak yg disinyalir melanggar UU ?
    27. Bgm dgn hal2 lain di luar legalitas PT, yg saat ini jg dipertanyakan & jd syarat tambahan : CSR, infrastruktur, pembinaan usia muda ?
    28. Apakah hal2 tersebut masih merupakan domain juriksi negara ? Atau sdh menjadk bagian juridiksi federasi ?
    29. Soal pembinaan usia muda, dlm UU No 3/2005, salah sayu tugas kewajiban negara adalah soal pembinaan dan prestasi
    30. Jd memeriksa apakah PT2 yg mengelola klub ini memiliki program terhadap pembinaan usia muda adalah sesuatu yang sangat wajar, hrs malah
    31. Karena pembinaan usia muda adalah salah satu jaminan terhadap prestasi olahraga di masa depan
    32. Apalagi spkbola yg di ajang multi event negara, memiliki syarat ketentuan pemain usia muda yg boleb bertanding
    33. Negara perlu mengecek soal ini utk memastikan bahwa PT tidak menjadikan klub sebagai sapi perahan finansial dgn mengabaikan pembinaan
    34. Bahkan saya fikir jika ada program pembinaan yg perlu peran serta negara , @KEMENPORA_RI harus memikirkan cara utk membantu
    35. Bagaimana dengan CSR, nah ini yg agak offside, ada pemahaman kurang tepat dari pihak kemenpora, walaupun ini bkn syarat wajib yg diminta
    36. CSR sebuah PT itu diatur dalam UU No 40/2007 dan PP No 47/2012 , khususya pasal 74 di dalam UU tersebut
    37. Di padal 74 UU 40/2007 itu hanya PT yg bergerak dibidang pengelolaan sumber daya alam yg WAJIB melakukan kegiatan CSR
    38. Sedangkan PT diluar bidanv tsb hanya diminta utk selenggarakan kegiatan CSR nya jika membukukan laba positif / memiliki keuntungan
    39. Jadi rasanya soal CSR ini bukan jadi syarat yg hrs saklek dipenuhi PT2 pengelola klub, apalagi PT2 ini katanya dalam posisi rugi :)
    40. Lalu apa jalan terbaik utk keluar dari kondisi ini ?
    41. Pertama, @KEMENPORA_RI cq BOPI hrs merilis kpd publik 2 hal dlm waktu dekat ini : syarat2 turunnya rekomendasi kegiatan olahraga pro ...
    42. ... dan merilis hal apa saja yg sudah dan belum dipenuhi oleh PT. Liga Indonesia sebagaj penyelenggara dan PT2 sebagaj pengelola Klub
    43, disampaikan saja md publik misalnya PT. PBB sdh memenuhi unsur apa sana yg diminta dan ala yg belum bisa dj penuhi
    44. Nantinya akan dapat dilihat berapa PT yg sdh mampu memenuhi hal dasar dan principal yg menyangkut legalitas legalitas
    45. Kedua, dalam 2 minggu ini sesuai dgn pengumuman @KEMENPORA_RI , PT2 yg belum memenuhi persyaratan principil diminta memenuhinya
    46. Jangan lupa @KEMENPORA_RI juga harus mengapresiasi PT2 pengelola klub yg sudah memenuhi persyaratan prinsipil yang diminta
    47. Nah jika itu semua bisa dilakukan maka, kita akan lihat di titik mana masalah sesungguhnya dari pengelolaan sepakbola Indonesia
    49. Bisa jadi masalah sesungguhnya sepakbola kita inj ada di federasi, PT liga Indonesia dan PT2 pengelola klub
    50. Jadi alih2 kita terburu buru menyerang @KEMENPORA_RI soal penundaan ini, sebaiknya di cek semuanya secara lengkap, jelas dan adil
    51. Bukankan suporter sepakbola itu keterkaitan loyalitasnya kepada klub ? Bukan kepada PT pengelola klub ? Coba cek sudah bener nggak PTnya
    52. Masihkan kita rela jika ada lagi pemain yg jadi korban hilang hak2 nya karena PT pengelola klub nya tidak benar ?
    53. Masihkah kita menutup mata jk kebesaran klub dan suporternya hanya digunakan utk kepentingan2 personal, kelompok dgn topeng sebuah PT ?
    54. Betul pasti akan ada yg terganggu / kecewa dgn proses ini, tapi bagaimana bs beres jk ruang utk memulai perbaikannya tdk pernah dibuka
    55. Tentunya perbaikan yg tepat dilakukan dgn cara2 yg baik juga, itulah mengapa @KEMENPORA_RI hrs tetap brada di jalur domain juridiksinya
    56. IMHO ini adalah momentum bg perbaikan sepakbola Indonesia, ada 'harga'memang seperti penundaan ini, tp jika tdk mulai kapan lagi ? - FIN
    57. ...... jgn sampai hanya krn ingin menyelamatkan sedikit PT pengelola klub yg bermasalah PT yg sehat, pemain & klub, suporter jadi korban
    58. Suporter & PT2 klub yg sehat harus punya sikap tegas utk PSSI, PT Liga dan PT pengelola klub yg bermasalah :)
    59. Kompetisi sepakbola itu tetap bisa berjalan hanya dengan 10 klub dgn PT pengelola yg sehat secara legal dan finansial
    59. Kompetisi sepakbola itu tetap bisa berjalan hanya dengan 10 klub dgn PT pengelola yg sehat secara legal dan finansial
    60. Bukanlah jadi benar2 LigaSuper jika pesertanya adalah klub di bawah pengelolaan yg baik dan sehat secara legal dan finansial ?
    62. Nah semoga proses yg dilakukan @KEMENPORA_RI ini bisa memisahkan mana PT pengeloka klub yg 'super' dgn yg pura2 'super' :D
    63. Klub dibawab pengelolaa PT yg sehat dan 'super' akan mendorong iklim positiv dalam sepakbola profesional kita, jd lebih mudah menatanya
    64. Tentunya @KEMENPORA_RI juga harus segera memagari semua ink dengan produk2 hukum yg jelas, model Permendagri no 1/2011
    65. Tidak bisa peran negara dlm proses perbaikan ini dilakukan denvan cara2 team adhoc, harus terlembaga dan memiliki sistem yg kuat & jelas
    66. Hal yg tidak kalan pentinb yg hrs dilakukan @KEMENPORA_RI adalah soal komunikasi yg baik dengan semua stake holder utama sepakbola
    67. dan jangan overdosis, segala yg over itu hasilnya akan tdk baik, jangan jadikan soal perbaikan ini jadi panggung, tetap fokus saja
    68. karena itu terkait dgn beberapa hal yg bisa jadi bukan bagian dari domain @KEMENPORA_RI tapi masih jadi bagian dari domain negara .....
    69. @KEMENPORA_RI bisa bekerja sama dan memberikan rekomendasi terkait dgn pemeriksaaan legalitas dgn Kemhumkam
    70. Jk terkait dgn pajak, maka bekerja samalah dgn Kementrian Keuangan dan Direktorat Pajak utk langkah2 dan tindakan selanjutnya
    71. Libatkan jg Depnaker utk hal2 terkait ketenagakerjaan, fungsikan pengadilan hub industrial jika ada masalah pemain dgn PT pengelola klub
    72. Termasuk jg soal kontrak pemain, krn dokumen kontrak itu dokumen hukum yg tdk bs dibuka sembarangan tanpa alasan, libatkab pihak terkait
    73. Jgn sampai niatan baik @KEMENPORA_RI ini jd rusak karena overdosis, offside krn diluar domainnya, krnnya koordinasikan dgn lembaga lain
    74. Bagaimana 2 minggu ke depan ? .... kita lihat saja, semoga semua pihak bisa menemukan titik temu dari niatan baik ini, semoga - FIN
    Pilih mana ? kompetisi dengan 10 klub dibawah PT yg sehat atau18 klub yg 8 diantaranya dibawah PT yg sakit ? Idealnya 18 nya sehat sih :D
  • jadi Boromania (lagi)

    Pulang ke Bojonegoro sejak Selasa lalu, melanglangbuana ke Sidoarjo Malang, mulai Kamis malem kemarin udah di rumah Bojonegoro lagi. Dan hari ini hari Minggu, pas banget ntar sore jadwal Persibo main di kandang Std Letjend Soedirman lawan Semarang United dalam lanjutan LPI, yeeaaaahhhh akhirnya aku bisa kembali mendukung tim orange yang dulu SANGAT SANGAT SANGAT gw bela & gw puja. Masa SMA adalah hal paling gila dukung Persibo ini, mulai dari nabung buat ikut tour Boromania ke luar kota sampe HP ilang di stadion, tapi semangat gw ga pernah surut buat dukung tim ini.
    Yaaa ntar sore gw bakal kembali ke stadion itu lagi, stadion yang aku ikuti jejaknya mulai dari hanya memiliki satu tribun, dibangun menjadi tribun keliling hingga sekarang sangat layak dengan adanya lampu untuk pertandingan malam hari.
    Sore ini gw bakalan nyanyi sekenceng-kencengnya, pertama kali sejak Persibo berlaga di LPI gw nonton di stadion lagi, yaa vakum gara-gara kelamaan di Bandung sampe jamuran hahahahaaa

    Yooo ayo ayo Persibo kuingin sore ini harus menang
    Panas udan ora takrasakne, Persibo ayo dimenangke

    Syal & kostum suporter siap

  • LPI dan ISL

    Oleh : Muhammad Dimas Gilang Fajar Alfarizi

    Sekarang yang menjadi trending topic di banyak media masa adalah perdebatan antara LPI dan PSSI (dengan kompetisi ISLnya). Saya hanya ingin mengkaji dari beberapa sisi kompetisi itu berdasar pada semua statement yang sudah dikeluarkan berbagai pihak termasuk PSSI itu sendiri yang saat ini bisa dibilang 'kebakaran jenggot'.

    Mungkin yang paling mencolok disini adalah dari sisi pendanaan. Selama ini ISL sebagai level tertinggi kompetisi  Indonesia di bawah naungan PSSI di awal launching gembar-gembor menuju "Liga Profesional". Setahu saya, yang namanya liga profesional, kita bisa berkaca kepada liga-liga eropa yang sudah termashur. Sebut saja BPL (Barclays Premier League), Liga Spanyol, Liga Italia, dsb. Apakah klub-klub disana menggunakan dana APBD seperti 'hampir seluruh' klub di ISL? TIDAK!!! Klub-klub disana bisa berdiri sendiri dengan sokongan dana dari sponsor yang mereka cari sendiri dan mereka kelola sendiri. Apabila ada profit, itu juga masuk kantong klub itu sendiri. Bandingkan dengan yang ada di ISL, memang pada awalnya sebuah tim harus membentuk sebuah Perseroan Terbatas (PT) untuk mengikuti kompetisi tersebut, dan seharusnya pendanaan klub yang sudah merubah diri menjadi PT harusnya bisa mandiri tanpe membebani uang rakyat. Namun yang terjadi di ISL, dana APBD masih menjadi nyawa bagi klub-klub tersebut. Mari kita bandingkan dengan konsep manajemen keuangan yang ditawarkan LPI, sebuah klub diberikan modal awal, dana tersebut dikelola sendiri untuk memenuhi kebutuhan tim tersebut, seluruh profit yang didapat masuk ke kantong klub itu sendiri.

    Masih mengenai pendanaan, kita lihat dari sisi sponsor. Selama ini sebuah perusahaan rokok besar menjadi sponsor utama ISL, dana yang dikucurkan melalui PSSI tidak didrop ke klub-klub, bahkan hanya untuk pencairan sebuah hadiah juara (yang saya tahu disini kasus hadiah Persibo Bojonegoro) itupun ditunda-tunda dengan alasan yang kurang jelas.

    Sekarang dari sisi materi pemain. Permainan dan kolektivitas tim akan terbentuk jika antara satu pemain dan pemain lain sudah sering bermain bersama dalam jangka waktu yang tidak singkat. Selama ini, yang namanya penggunaan APBD dipastikan turun per tahun dan jumlahnya pun tidak pasti. Maka dari itu, selama ini klub ISL tidak pernah mengontrak seorang pemain atau bahkan pelatih lebih dari 1 tahun. Ini jelas akan mempengaruhi kualitas kompetisi dimana permainan sebuah tim belum bisa terorganisir. Mari kita bandingkan dengan konsep yang ditawarkan LPI, seorang pelaku di lapangan bisa dikontrak untuk beberapa tahun ke depan, sehingga diharapkan kolektivitas sebuah tim akan terbentuk, yang pada akhirnya akan berujung pada sebuah kompetisi yang berkualitas.

    Yang menjadi berita paling hangat saat ini di media adalah kenapa PSSI begitu kelabakan dengan adanya LPI? Toh kalaupun itu berjalan beriringan itu tidak akan menjadi masalah. Yang disesalkan adalah sebuah statement dari PSSI adalah "setiap pemain dan pelatih serta wasit yang berlaga di LPI akan dihukum secara tegas dan dicabut lisensinya". Padahal di Indonesia pun dulu pernah ada dua kompetisi yang berjalan beriringan yaitu di era Galatana dan Perserikatan. Dan yang paling disesalkan adalah sebuah statement bahwa "semua pemain yang berlaga di LPI tidak memiliki hak bermain untuk Timnas Indonesia". Kalaupun pada akhirnya seorang pemain berkewarganegaraan Indonesia hasil kompetisi LPI ditransfer oleh sebuah tim eropa macam Barcelona atau Man United, apakah PSSI tetap kekeuh tidak memanggil pemain tersebut? Bagaimana nasib seorang Irfan Bachdim (IB#17 Indonesia) dan Kim Jeffry Kurniawan yang memiliki masa depan cerah bagi persepakbolaan nasional tapi memilih bergabung bersama Persema di LPI?

    Yang menjadi pertanyaan besar ialah kenapa PSSI begitu kebakaan jenggot dengan adanya LPI? Kalau pada akhirnya itu untuk kemajuan sepakbola di Indonesia, kenapa harus ditentang? Seharusnya PSSI tidak tutup mata tutup telinga dalam menyikapi langkah positif pihak lain yang ikut turut serta membangun industri sepakbola Indonesia. ISL tidak harus bubar dengan adanya LPI, dan LPI juga tidak seharusnya ditentang.

    Sekarang Persibo sudah menyatakan sikap memilih LPI sebagai kompetisi yang diikuti. Pertanyaan besar bagi kita pecinta Persibo, mampukah masyarakat Bojonegoro bersiap menyambut industri sepakbola modern yang ditawarkan LPI?

    Mari kita buka mata, buka telinga. Berikan penilaian secara objektif. Mana yang lebih baik, masyarakat yang menentukan.

    identitas penulis:
    twitter : @dimasalfarizi - Boromania - Mahasiswa IT Telkom Bandung

  • Surat Untuk Firman

    Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

    Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.


    Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.


    Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang.

    Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa.

    Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan.

    Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan.

    Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.


    Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!


    disadur dari :
    http://forum.detik.com/surat-untuk-firman-t226787.html 
  • GBK bikin gemetar

    Nulis ini di tengah kesibukan, kepuyengan, kesetresan & keautisan gw ngerjain apa itu yang namanya Proyek Akhir alias PA (ga penting banget)

    Ini sih pengalaman pribadi gw masuk yang namanya Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Sebagai pecinta sepakbola, malah mungkin bisa disebut suporter yang bener-bener fanatik, gw dah pernah duduk di bangku penonton kebanyakan stadion di Pulau Jawa. Sebut aja Std Delta Sidoarjo, Std Manahan Solo, Std Gajayana Malang, Std Kanjuruhan Malang, Std Siliwangi Bandung, Std Jalak Harupat Bandung, dan banyak stadion kecil yang ga bakal bisa gw sebutin 1 per 1. Tapi ini pertama kali gw nginjakin kaki si SUGBK, memang kedengeran aneh tapi emang gitu adanya.

    Semifinal 2nd leg AFF Cup 2010 antara Indonesia v Filipina jadi 'kunjungan' pertama gw di SUGBK, bareng rombongan kampus berangkat dgn 2 bis. Bisa dibilang gw speechless ketika pertama kali sampe disana, bukan karena gw kaget ma GDnya stadion ini, tapi speechless gara-gara antusiasme publik bola Indonesia yang begitu hebat. Hampir semuanya ber'jersey' merah ala GARUDA MERAH PUTIH.

    Kick off pertandingan jam 19.00 tapi begitu masuk stadion jam 16.45 ternyata tribun atas udah hampir penuh, dan yang paling membuat dada bergetar, nyanyian & dukungan serta teriakan 'INDONESIA INDONESIA' sudah membahana di dalam SUGBK. Tak lupa juga nyanyian (yang populernya hampir menyamai Lagu Kebangsaan) 'Garuda di dadaku, Garuda kebanggaanku, kuyakin hari ini pasti menang'. Itu baru 'check sound' suporter doang lho...

    Begitu bus pemain timnas masuk stadion, suasana lebih meriah lagi, teriakan suporter makin kenceng.
    Apalagi pas pemain GARUDA mesuk lapangan untuk pemanasan, busyeettt dah tribun atas ini kayak mau roboh, goyang dan bergetar seiring semangat suporter yang makin panas dan makin memenuhi SUGBK.

    Yang paling gw inget, moment krusial, National Anthem Indonesia Raya dinyanyikan, wuuiihhhh dada ini bergetar, sambil megang Garuda di dada jersey Indonesia yang gw pake, nyanyi ini hampir aja meneteskan air mata. Sungguh hebat, ga kebayang andaikan gw yang turun di lapangan situ, gimana groginya maen di hadapan suporter yang begitu hebat, begitu garang memberikan teror buat tim lawan.

    Kick off dan pertandingan berjalan, cukup mengesankan permainan Timnas Garuda waktu itu. Umpan satu dua, sprint, dan tebasan dari sisi manapun membahayakan gawang Filipina. Dan akhirnya menit ke 42 sebuah banana shoot dari 'El Loco' Gonzales membuat tribun ini semakin bergetar, yaaaa GOOOAAALLLL....!!!!!!!

    Alhamdulillah sampe peluit akhir berbunyi, Indonesia tetap memimpin dan akhirnya lolos ke final dengan agregat 2-0. Tapi sayang, final 2nd leg 29 Desember 2010 kelak gw gabisa datang lagi di tribun untuk menjadi pemain ke12 yang ada di SUGBK. Tapi gw selalu berdoa, agar Timnas GARUDA bisa mengganyang MALINGSIA di final AFF Cup 2010. SEMOGA!!!









  • Kritik atas Spanduk Nurdin Halid di GBK

    disadur dari www.detiksport.com
    Jakarta - Nurdin Halid membuat satu lagi kesalahan besar saat Piala AFF berlangsung di Jakarta. Fenomena spanduk di Stadion Gelora Bung Karno, yang adalah katedral-nya sepakbola Indonesia, adalah sebuah penodaan atas keluhuran stadion.

    Kita tahu, dalam sepakbola, stadion adalah segalanya. Para pemuja sepakbola ada yang menyebutnya sebagai gereja, kuil, atau altar -- ringkasnya: tempat paling adiluhung dalam perayaan sepakbola. Di sanalah, di stadion itu, semua urusan akan diselesaikan atau justru akan dimulai, segala cerita akan dibangun atau mungkin dihancurkan, emosi akan dikerek ke udara atau malah akan terbantun seketika.

    Di level itu, stadion adalah sebuah "public-space", tempat keragaman suara dirayakan, tempat warga punya ruang untuk mengekspresikan semangat (komunalisme). Ia adalah altar di mana kebebasan seorang suporter bisa dikerek setinggi-tingginya, sekaligus ia pula yang mempertanggungjawabkan dan menanggung risiko atas kebebasan yang dirayakannya di sana.

    Stadion, sekali lagi, adalah puncak pengalaman dalam melibatkan diri dengan sepakbola -- apapun posisi Anda, sebagai pemain, suporter, wasit, sampai presiden sebuah federasi sepakbola.

    Tentu saja stadion membutuhkan "keteraturan" tersendiri. Semua studi antropologi tentang ritus-ritus juga selalu menemukan adanya "keteraturan", "pola", "rukun", dll. Dalam upacara sepakbola di stadion, keteraturan terutama terkait dengan isu keamanan, baik isu keamanan yang sifatnya fisikal maupun keamanan di level non-fisikal (misalnya: isu rasisme). Ini sudah jadi standar di mana pun, tentu saja dengan gradasi yang berbeda-beda di tiap tempat, tergantung kesiapan, juga tergantung intensitas duel yang sedang di gelar di stadion.

    Tapi di luar isu keamanan itu, upacara sepakbola di dalam stadion sudah sepatutnya dibiarkan berlangsung secara alamiah dan bergulir secara organis. Upaya pembatasan pada kelangsungan upacara sepakbola, apalagi hanya sekadar untuk menjaga kepentingan seseorang, adalah pengingkaran terhadap sepakbola sebagai sebuah peristiwa, sepakbola sebagai sebuah event, sepakbola sebagai sebuah upacara dan perayaan.

    PSSI dan Nurdin Halid, saya kira, telah melakukan dua hal tidak patut yang membuat keduanya layak didakwa telah menodai keluhungan Stadion Utama Gelora Bung Karno sekaligus upacara perayaan sepakbola ini.

    Pertama, PSSI dan Nurdin Halid telah membatasi stadion sebagai cagar alam kebebasan bersuara para suporter. Nurdin dan antek-anteknya memasang spanduk-spanduk yang menguntungkan dirinya sendiri. Nurdin boleh saja berkilah bukan dia yang memasangnya. Tapi fakta bahwa spanduk-spanduk itu sudah terpasang jauh sebelum suporter berdatangan tak bisa membuatnya mengelak.

    Tentu saja kita bisa katakan bahwa seorang PSSI dan Nurdin pun boleh dan berhak bersuara. Hanya saja, jika demikian argumennya, maka PSSI dan Nurdin juga tak punya secuil pun hak untuk memberangus spanduk dan poster-poster yang mengkritik dan menghujatnya. Itu baru adil.

    Tapi keadilan itu tidak terjadi. PSSI dan Nurdin dengan sewenang-wenang melarang para suporter dan pemuja sepakbola membawa spanduknya sendiri ke dalam stadion. Tas digeledah di pintu masuk Stadion (bukan untuk menyita benda-benda berbahaya seperti pisau, misalnya) tapi justru untuk menyita spanduk-spanduk, apa pun isi dan bunyi spanduknya.

    Jika pun dalam Stadion Gelora Bung Karno akhirnya masih terpasang spanduk-spanduk, spanduk itu masuk karena kerja-keras para suporter untuk mengakali aparat-aparat yang sudah di-set up untuk menjaga ketunggalan-suara (monophone) dan memberangus keragaman-suara (polifhone).

    Kami harus bertarung urat syaraf dengan orang-orang berkaos merah berlengan hitam (yang masuk ke stadion tanpa tiket) sepanjang 80 menit agar bisa memasang spanduk dalam laga tim nasional melawan Laos. Itu pun tidak bertahan lama, hanya sekitar 5-8 menit. Orang-orang dengan handy-talkie di tangan segera memberangus spanduk itu. Jika Presiden saja bisa membiarkan dirinya dikritik dan dihujat, kenapa PSSI dan Nurdin Halid merasa harus diistimewakan?

    Orang mungkin berpikir bahwa sweeping hanya berlaku untuk spanduk yang mengkritik PSSI dan Nurdin Halid. Ternyata salah. Spanduk yang mendukung nama seorang pemain di tribun selatan atas, dalam laga versus Thailand kemarin, dipaksa untuk diturunkan oleh  preman-preman yang dikerahkan. Hanya karena kekompakan suporter di tribun selatan sajalah preman-preman itu akhirnya "mengalah" dan membiarkannya.

    PSSI dan Nurdin Halid hanya mengizinkan spanduk-spanduk yang mereka buat sendiri. Spanduk-spanduk dengan cetakan yang bagus, dengan font yang rapi, dengan kalimat-kalimat yang formal layaknya seorang siswa sedang belajar SPOK (subyek, predikat, obyek, keterangan).

    Apa yang terjadi? Bagi saya, Stadion Gelora Bung Karno, kehilangan sejumlah hal yang paling alamiah. Alih-alih membakar semangat, spanduk-spanduk PSSI itu malah membuat secara visual stadion terasa begitu formal dan kaku. Terasa benar sebentuk keteraturan yang dipaksakan, bukan gelora yang membuncah secara alamiah. Bagusnya suporter Indonesia tak henti-hentinya bernyanyi; laku yang membuat stadion Gelora Bung Karno bisa tetap terjaga auranya yang magis.

    Pertanyaannya: adakah federasi sepakbola di dunia ini yang hanya mengizinkan stadion diisi oleh spanduk yang dibuat oleh federasi sepakbola sendiri?

    Kedua, PSSI dan Nurdin Halid terbukti "mengotori" keluhungan Stadion Gelora Bung Karno dengan memasukkan suporter bayaran dan preman-preman bayaran.

    PSSI dan Nurdin boleh berkilah, tapi perilaku orang-orang itu tak bisa membuat mereka menyangkal. Sebelum laga, mereka berkumpul di depan Kantor PSSI, dengan kaos merah berlengan hitam, lalu sebagian dari mereka mengawal Nurdin Halid masuk ke stadion (tentu tanpa tiket), sebagian lagi menyebar ke semua sektor, menjaga spanduk-spanduk bikinan PSSI dan Nurdin Halid, dan saat jeda masing-masing mendapat jatah nasi bungkus. Dalam laga melawan Thailand, orang-orang berbadan kekar berkeliaran di tribun selatan atas, memaksa beberapa spanduk yang dibawa suporter untuk diturunkan.

    Harian TopSkor (6 Desember 2010, hal. 14) melaporkan bahwa mereka disuplai oleh seseorang yang mereka panggil Pak Yapto Suryo Sumarno, dengan upah 60 ribu rupiah, berikut kaos, jatah nasi bungkus dan tiket cuma-cuma.

    Dengan mengizinkan suporter bayaran dan preman-preman bayaran itu masuk ke stadion, PSSI dan Nurdin Halid justru telah memperlakukan laga tim nasional tak ubahnya sebagai sebuah kampanye partai politik. Dengan itu, PSSI dan Nurdin Halid telah memperlakukan laga tim nasional sebagai miliknya, bukan perayaan kolektif para pemuja sepakbola dan pendukung tim nasional Indonesia.

    Dengan alasan inilah, kita patut menolak kenaikan harga tiket semifinal Piala AFF.

    Sejujurnya, kenaikan harga tiket adalah hal wajar. Harga tiket babak penyisihan dengan semifinal wajar saja berbeda. Tapi, kenaikan harga tiket itu tak bisa diterima jika PSSI dan Nurdin Halid masih membiarkan orang-orang bayaran dan preman-preman itu masuk ke stadion. Para pemuja sepakbola dan suporter tim nasional bayar tiket mahal-mahal, ealah... PSSI dan Nurdin malah membiarkan antek-anteknya masuk tanpa tiket. Jika mau egaliter dan solider, seorang Nurdin Halid pun harusnya masuk dengan membeli tiket.

    Percayalah, para pemuja sepakbola di Indonesia tak akan membiarkan tim nasional bertanding tanpa dukungan. Tanpa suporter bayaran pun Stadion Gelora Bung Karno akan sesak dengan para suporter yang tak akan lelah-lelahnya bernyanyi untuk Bambang Pamungkas, Christian Gonzales, dkk. Menyelundupkan suporter bayaran sama saja meragukan kecintaan publik sepakbola Indonesia pada tim nasional Indonesia.

    Ingat, ini tim nasional Indonesia, bukan tim PSSI. Tim nasional adalah milik orang Indonesia, bukan punya PSSI dan Nurdin Halid. Catat juga: Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah milik bangsa Indonesia, dan jelas-jelas bukan milik PSSI atau Nurdin Halid.

    Saya (juga para pemuja sepakbola yang lain) selalu dan akan selalu datang ke Senayan untuk tim nasional, tapi jelas bukan demi PSSI apalagi Nurdin Halid.



    ===


    *Penulis adalah pencinta sepakbola, editor di Indonesia Boekoe. Tulisan adalah opini penulis dan tidak mencerminkan pendapat redaksi detiksport.
  • Betapa Kami Merindukan Kemenanganmu…

    25 October 2010, Suara Boromania
    disadur dari : www.persibo.bojonegoro.com

    Pemain boleh datang dan pergi, pelatih dan manajemen juga silih berganti, tapi para suporter akan tetap setia menanti. Kami akan tetap menyisihkan tabungan, mengenakan jersey oranye, melintasi ratusan kilometer, dan bernyanyi tiada henti di dalam stadion.

    Ya, barangkali sepak bola memang diawali dari kesetiaan suporter, bukan dari gelimang kejayaan sebuah klub. Sepak bola tidak dimulai dari berapa miliar rupiah kontrak dan gaji para pemain, tapi dimulai dari rasa cinta dan kesetiaan para penggemar. Miliaran rupiah kontrak dan gaji itu tak ada apa-apanya bila dibandingkan kesetiaan dan kecintaan Boromania kepada Persibo Bojonegoro.
    Kita semua, para Boromania, menghayati hal tersebut di awal perhelatan Liga Super Indonesia musim ini yang terasa begitu berat bagi Persibo. Persibo belum sekali pun mereguk kemenangan. Lima kali pertandingan, tiga di antaranya partai kandang, kita hanya mampu meraup dua poin. Sungguh hasil yang jauh dari harapan.
    Tapi toh kita tetap setia menanti. Kita tetap setia di pinggir lapangan, memasang spanduk raksasa, mengibarkan bendera, bertempik-sorak, meniup terompet, dan bernyanyi sampai serak.
    Sebagian dari kita harus menyisihkan pendapatan, yang mungkin tak seberapa, untuk bisa membayar tiket rombongan Rp30.000 menuju Stadion Brawijaya Kediri. Bagi sebagian orang, Rp30.000 bukan duit yang sedikit. Ada yang mesti menjual ayam peliharaan, menyisihkan gaji harian, atau bahkan berutang ke tetangga.
    Yang masih pelajar menyisihkan uang jajan untuk bisa membeli tiket, membeli kaus dan syal, serta membikin spanduk. Yang sudah bekerja, dengan berbagai cara menyisihkan gaji agar bisa bernyanyi bangga di dalam stadion dengan mengenakan jersey oranye.
    Tujuannya hanya satu: melihat Persibo bermain cantik dan mendekap kemenangan. Hasilnya: kita kecewa.
    Tapi toh kita tetap setia menanti. Saat bersua Persiwa Wamena, Minggu siang (24/10/2010) pukul 11.00, saya tiba di Stadion Brawijaya Kediri dan melihat banyak Boromania sudah berada di sekitar stadion. Makin siang makin ramai. Saat hujan deras pukul 14.00, gelombang kedatangan Boromania kian memuncak.
    Banyak dari mereka yang basah kuyup karena berangkat mengendarai motor. Mereka melintasi ratusan kilometer, menembus belantara hutan di sepanjang Temayang hingga Nganjuk, mungkin dengan jalan yang tak mulus dan penuh gerowak. Ada seorang bapak bersama putranya yang baru berumur enam tahun menggigil kedinginan tepat di warung depan pintu masuk stadion. Hebatnya, tak ada yang mengeluh.
    Tujuannya hanya satu: melihat Persibo bermain cantik dan mendekap kemenangan. Hasilnya: kita kecewa.
    Itu cerita tentang kesetiaan Boromania, meski kesetiaan tersebut tahun ini harus dihadapkan pada kekecewaan yang bertubi-tubi. Saya kecewa, tapi saya sadar: justu dalam kondisi terjal seperti saat ini, cinta dan kesetiaan mendapat ujian yang paling sulit.
    Ada satu cerita klasik tentang kesetiaan suporter di Fever Pitch karya Nick Hornby, sebuah kisah apik tentang kebanggaan penggemar kepada tim kesayangannya, sekali pun tim itu tengah dirubung kesulitan. Buku itu memenangi William Hill Sports Book of the Year 1992. Fever Pitch juga melambari pembuatan film dengan judul yang sama, film yang ditahbiskan Majalah Four-Four-Two sebagai 10 film terbaik tentang sepak bola.
    Hornby menggunakan kata “keterikatan” untuk menggambarkan kesetiaan suporter kepada tim pujaannya. “Ayah mengajakku ke Spurs untuk menyaksikan aksi Jimmy Greaves menjebol gawang Sunderland hingga empat kali dan mengakhiri pertandingan dengan skor 5-1…gol-gol yang tercipta dan semua pemain dengan nama besar itu tak bisa membuatku terkesan dan kagum. Aku telah jatuh cinta pada tim lain yang menundukkan Stoke dengan skor 1-0,” tulis Hornby. Tim yang dicintai Hornby adalah Arsenal.
    Arsenal, seperti tim lainnya, tak selamanya bisa mendekap kejayaan. Saat Arsenal dirundung banyak kesulitan, ia tetap setia menyaksikan pertandingan demi pertandingan. “Aku terikat dengan Arsenal…dan bagi kami tak ada ada kemungkinan lain,” tulisnya.
    Banyak kelompok suporter di Inggris yang akhirnya mendefinisikan cintanya ke tim pujaan dengan kata relationship yang sebenarnya lebih lazim digunakan untuk hubungan cinta sesama manusia.
    Saking kentalnya kesetiaan itu, CEO English Premier League Rick Parry pernah berkata, “You can change your job, you can change your wife, but you can’t change your soccer team….” Ya, kita bisa berganti pekerjaan, atau bahkan cerai dan kemudian ganti istri alias kawin lagi, tapi kita tak akan pernah bisa berganti tim pujaan.
    Kata Rick Parry lagi, “You can move from one end of the country to another, but you never, ever lose your allegiance to your first team.” Kita, para Boromania, barangkali kini ada yang bekerja di Jakarta, Lamongan, Malang, atau Surabaya, dan bulan depan bervakansi ke Singapura atau Korea Selatan, tapi kita tak akan pernah bisa berganti tim kesayangan dan tiba-tiba menjadi LA Mania, Aremania, atau Bonekmania.
    Begitulah kami setia di jalan ini, di jalan penuh liku perjuangan Persibo Bojonegoro. Di televisi kami melihat aksi memukau dan kemenangan gemilang Persipura Jayapura, PSM Makassar, Deltras Sidoarjo, atau Persija Jakarta. Tapi kami tak lantas menanggalkan jersey Persibo dan menjadi pendukung Persipura, PSM, Deltras, atau Persija.
    Begitulah kami setia di jalan ini, di jalan penuh kelok perjuangan Persibo Bojonegoro. Sudah sejak di divisi antah-berantah bertahun-tahun silam kami selalu hadir di pinggir stadion, menyanyi sampai parau dan kering tenggorokan.
    Saat berulang kali dihajar wasit di divisi utama musim lalu, kami tak henti-hentinya memompakan semangat. Boromania menembus jalanan dari Bojonegoro ke Sidoarjo, meski kami ditimpuki batu entah oleh siapa di sepanjang Lamongan. Kami melintasi hutan dari Bojonegoro ke Solo, meski jalanan berkelok dan hujan kerap mengguyur.
    Kami sadar, perjuangan bukan seperti sebentang garis lurus di peta. Tak ada yang mudah, tapi kami tak pernah dan tak akan pernah jera.
    Kami hanya ingin pelatih dan para pemain paham satu hal: betapa kami merindukan kemenangan itu…

    Mohammad Eri Irawan, Boromania, tinggal di Sukorejo.
    Twitter: @erirawan
  • ADDRESS

    Bandung, Jawa Barat, Indonesia

    EMAIL

    muhdimasgfa@yahoo.com

    TELEPHONE

    +62 (ask)

    MOBILE

    +62 (ask)